Category Archives: Bumi Kita

Membuat Biopori di halaman rumah


Mencoba Menanggulangi Banjir Yang sering Terjadi Di Jalanan Dan Perumahan Ibukota adalah tanggung jawab kita bersama mungkin banyak cara untuk menanggulanginya salah satunya adalah dengan membuat LUBANG RESAPAN AIR “BIOPORI”.

Apakah Biopori itu:lubang yang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan.

Fungsi dan Tujuan:

1. Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah.
2. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar.
3. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit.
4. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.
5. Mengurangi resiko banjir di musim hujan.
6. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.
7. Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

Cara Membuat:
1. Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm.

2. Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 centimeter serta diberikan pengaman agar tidak ada anak kecil atau orang yang terperosok.

3. Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami.

4. Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air perlubang (liter / jam).

Sumber: http://kitadanbumi.blogspot.com/2011/06/membuat-biopori-di-halaman-rumah.html

Advertisements

2 Comments

Filed under Bumi Kita

Pasific “Ring Of Fire”


The “Ring of Fire” is an arc stretching from New Zealand, along the eastern edge of Asia, north across the Aleutian Islands of Alaska, and south along the coast of North and South America. The Ring of Fire is composed over 75% of the world’s active and dormant volcanoes.

This huge ring of volcanic and seismic (earthquake) activity was noticed and described before the invention of the theory of plate tectonics theory. We now know that the Ring of Fire is located at the borders of the Pacific Plate and other major tectonic plates.

Plates are like giant rafts of the earth’s surface which often slide next to, collide with, and are forced underneath other plates. Around the Ring of Fire, the Pacific Plate is colliding with and sliding underneath other plates. This process is known as subduction and the volcanically and seismically active area nearby is known as a subduction zone. There is a tremendous amount of energy created by these plates and they easily melt rock into magma, which rises to the surface as lava and forms volcanoes.

Volcanoes are temporary features on the earth’s surface and there are currently about 1500 active volcanoes in the world. About ten percent of these are located in the United States.

This is a listing of major volcanic areas in the Ring of Fire:

  • In South America the Nazca plate is colliding with the South American plate. This has created the Andes and volcanoes such as Cotopaxi and Azul.
  • In Central America, the tiny Cocos plate is crashing into the North American plate and is therefore responsible for the Mexican volcanoes of Popocatepetl and Paricutun (which rose up from a cornfield in 1943 and became a instant mountains).
  • Between Northern California and British Columbia, the Pacific, Juan de Fuca, and Gorda plates have built the Cascades and the infamous Mount Saint Helens, which erupted in 1980.
  • Alaska’s Aleutian Islands are growing as the Pacific plate hits the North American plate. The deep Aleutian Trench has been created at the subduction zone with a maximum depth of 25,194 feet (7679 meters).
  • From Russia’s Kamchatka Peninsula to Japan, the subduction of the Pacific plate under the Eurasian plate is responsible for Japanese islands and volcanoes (such as Mt. Fuji).
  • The final section of the Ring of Fire exists where the Indo-Australian plate subducts under the Pacific plate and has created volcanoes in the New Guinea and Micronesian areas. Near New Zealand, the Pacific Plate slides under the Indo-Australian plate.

Sumber tulisan: http://geography.about.com/cs/earthquakes/a/ringoffire.htm

Sumber gambar: http://www.google.co.id/search

Leave a comment

Filed under Bumi Kita

Sistim Irigasi ala Subak di Pulau Bali


Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali, Indonesia. Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.

Sekelumit Mengenai Revolusi Hijau (Green Revolution)

Sebutan tidak resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada (kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok), seperti India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia, untuk menyebut beberapa negara. Norman Borlaug, penerima penghargaan Nobel Perdamaian 1970, adalah orang yang dipandang sebagai konseptor utama gerakan ini. Revolusi hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting[1]: penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas. Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.

Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Oleh para pendukungnya, kerusakan dipandang bukan karena Revolusi Hijau tetapi karena ekses dalam penggunaan teknologi yang tidak memandang kaidah-kaidah yang sudah ditentukan. Kritik lain yang muncul adalah bahwa Revolusi Hijau tidak dapat menjangkau seluruh strata negara berkembang karena ia tidak memberi dampak nyata di Afrika.

Saat Penerapan Sistem Irigasi

Revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi ini, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Ini sangatlah berbeda dengan sistem Subak, di mana kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan. Metode yang baru pada revolusi hijau menghasilkan pada awalnya hasil yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air. Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah secara tradisional sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala ini.

Subak telah dipelajari oleh Clifford Geertz, sedangkan J. Stephen Lansing telah menarik perhatian umum tentang pentingnya sistem irigasi tradisional. Ia mempelajari pura-pura di Bali, terutama yang diperuntukkan bagi pertanian, yang biasa dilupakan oleh orang asing. Pada tahun 1987 Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk mengembangkan model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu ia membuktikan keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini.

Museum of Subak

Museum Subak terdiri dari dua bagian. Ada museum induk dan museum terbuka. Di museum induk ada bangunan atau kompleks suci dengan Padmasana, Bedugul dan lain-lainnya. Tata ruang dan tata letak bangunan disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya dengan tetap berpegang pada pembangunan tradisional : Tri Mandala, Tri Angga dan Asta Kosala Kosali. Sedangkan museum terbuka berwujud “Subak Mini” yang dipakai sebagai peragaan kegiatan subak, dari sistem irigasi hingga proses kegiatan petani di sawah.

Didalam kompleks terdapat ruang pameran, ruang audio visual, ruang belajar, fasilitas penginapan, perpustakaan, kantor dan miniatur sistem irigasi. Museum ini diresmikan mantan Gubernur Bali, Prof Dr Ida Bagus Mantra tanggal 13 Oktober 1981. Berdirinya museum ini digagasi oleh I Gusti Ketut Kaler, pakar adat dan agama yang waktu itu menjabat Kanwil Departemen Agama Propinsi Bali. Ia melihat perlu adanya lembaga adat Subak yang berupaya melestarikan warisan luhur budaya bangsa sejak abad XI ini. Upaya itu akhirnya terwujud.
Pada mulanya disebut “Cagar Budaya Museum Subak”.Museum ini merupakan museum khusus tentang sistem pertanian di Bali berciri khas kemandirian atas landasan kekal “Tri Hita Krana”, tiga penyebab kebahagiaan (Tuhan, manusia dan alam). Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dikhawatirkan akan berpengaruh pula terhadap kehidupan Subak.
Untuk itu upaya melestarikan Subak beserta peralatan tradisional Bali termasuk di dalamnya bangunan rumah petani tradisional yang mengikuti aturan pembangunan asta bumi dan asta kosala-kosali, tata ruang, tata letak menurut tradisi masyarakat di Bali perlu digalakkan. Disamping menyelamatkan, menggali, mengamankan dan memelihara berbagai benda yang berkaitan dengan subak dan menyuguhkan berbagai informasi, pendidikan dan dokumentasi tentang Subak, Subak ini ternyata menjadi objek wisata yang menarik.

Sistem Irigasi

Subak adalah suatu masyarakat hukum adat yang memiliki karakteristik sosioagraris-religius, yang merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi di lahan sawah. Pengertian subak seperti itu pada dasarnya dinyatakan dalam peraturan-daerah pemerintah-daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/l972. Pada perkembanganya ada beberapa tokoh yang memperluas pengertian karakteristik sosio-agraris-religius dalam sistem irigasi subak, dengan menyatakan lebih tepat subak itu disebut berkarakteristik sosio-teknis-religius, karena pengertian teknis cakupannya menjadi lebih luas, termasuk diantaranya teknis pertanian, dan teknis irigasi.

Subak sebagai suatu sistem irigasi merupakan teknologi sepadan yang telah menyatu dengan sosio-kultural masyarakat setempat. Kesepadan teknologi system subak ditunjukkan oleh anggota subak tersebut melalui pemahaman terhadap cara pemanfaatan air irigasi yang berlanadaskan Tri Hita Karana (THK) yang menyatu dengan cara membuat bangunan dan jaringan fisik irigasi, cara mengoperasikan, kordinasi pelaksanaan operasi dan pemeliharaan yang dilakukan oleh pekaseh (ketua subak), bentuk kelembagaan, dan informasi untuk pengelolaannya. Sistem subak mampu melakukan pengelolaan irigasi dengan dasar-dasar harmoni dan kebersamaan sesuai dengan prinsip konsep THK, dan dengan dasar itu sistem subak mampu mengantisipasi kemungkinan kekurangan air (khususnya pada musim kemarau), dengan mengelola pelaksanaan pola tanam sesuai dengan peluang keberhasilannya. Selanjutnya, sistem subak sebagai teknologi sepadan, pada dasarnya memiliki peluang untuk ditransformasi, sejauh nilai-nilai kesepadanan teknologinya dipenuhi.

Sumber:

http://www.hortichain.org/site/id/news/news/25-news/333-subak-irigation-system-in-bali-island.html


Leave a comment

Filed under Bumi Kita

Benua Australia


Bentang alam Australia

Kawasan bentang alam

Australia adalah sebuah benua. Di Australia dimungkinkan untuk bepergian sejauh ratusan kilometer tanpa menjumpai adanya perubahan timbulan. Hal ini disebabkan Benua Australia adalah benua yang paling datar di dunia. Sebagian besar dari benua tersebut adalah plato rendah. Juga terdapat dataran rendah pantai di sisi timur dan barat. Benua Australia dapat dibagi menjadi lima kawasan bentang alam yang utama, yaitu

  • plato barat
  • plato dataran rendah tengah
  • kawasan pegunungan timur
  • dataran rendah pantai barat, dan
  • dataran rendah pantai timur

Gambaran lebih jauh tentang bentang alam Australia dapat dilihat dalam rentas benua yang mulai Geraldton di bagian barat ke Tweed Heads di bagian timur.

Plato Barat

Plato Barat merupakan kawasan yang sangat luas yang dulunya merupakan ketinggian tetapi kemudian aus dilanda erosi. Kawasan ini terdiri atas Plato Hammersley, Plato Kimberley, dan Plato Tanah Arnhem. Kawasan tersebut juga mencakup pegunungan-pegunungan yang sangat rendah seperti Pegunungan Macdonnell dan Musgrave, serta monolit (batu besar) raksasa yang disebut Uluru atau Ayer’s Rock

Uluru. Ini adalah tempat yang suci bagi orang Aborijin. Menurut tradisi Aborijin, penanggung-jawab daerah Uluru adalah suku Anangua.

Beberapa dari batu yang ada di daerah ini merupakan batu tertua di dunia, yang umurnya lebih dari 3.000 juta tahun. Erosi selama jutaan tahun telah menerpa batu-batu ini dan membuatnya aus. Banyak di antaranya yang terbentuk jauh dalam bumi di bawah suhu dan tekanan yang sangat besar. Beberapa dari batuan endapan dan batuan beku yang ada di kawasan ini telah berubah menjadi batuan metamorfis (batuan malihan) karena adanya tekanan dan suhu panas. Batuan metamorfis adalah batuan yang telah berubah dari bentuk aslinya yang disebabkan oleh adanya pemanasan atau pemadatan. Kebanyakan batuan yang membentuk plato tersebut mengandung endapan mineral yang penting, seperti bijih besi, intan, dan nikel.  Sebagian besar Plato Barat tersebut merupakan gurun pasir dan banyak kawasan luas yang tidak bersungai. Beberapa dari sungai yang ada di kawasan ini adalah Sungai Ord, Gascoyne, dan Murchison, yang semuanya mengalir ke barat atau utara.

Dataran Rendah Tengah

Kawasan ini terbentuk dari endapan, yang membentang dari daerah pantai utara di Teluk Carpentaria ke arah selatan di dataran rendah Sungai Murray dan Sungai Darling

Di seluruh kawasan ini terdapat banyak cekungan salir. Di sebelah utara terdapat cekungan Carpentaria. Di sebelah selatan cekungan Carpentaria ada cekungan Danau Eyre yang sangat luas. Di kawasan ini, kebanyakan sungai bersifat tidak tetap dan hanya mengalir kalau hujan. Sungai-sungai tersebut mengalir ke danau-danau besar di daerah pedalaman dan tidak pernah sampai ke laut. Danau Eyre adalah danau terbesar dan hampir sepanjang tahun danau tersebut merupakan danau garam tanpa air. Di sebelah selatan cekungan Danau Eyre dijumpai cekungan Murray-Darling yang mengalir di kedua sungai terbesar di Australia, yakni Sungai Murray dan Sungai Darling.

Dataran tinggi Timur

Kawasan ini dulu dikenal sebagai Pegunungan Pemisah Besar. Dataran tinggi tersebut berbentuk gunung-gunung tua yang terkena erosi (terkikis) selama jutaan tahun. Dataran tinggi tersebut berawal di dekat semenanjung Cape York dan membentang ke selatan ke arah Tasmania. Dataran Tinggi Timur mencakup Pegunungan Biru (Blue Mountains) yang terletak di sebelah barat Sydney dan pegunungan tertinggi di Australia, yakni Pegunungan Salju (Snowy Mountains) yang terletak di sepanjang perbatasan negara bagian New South Wales dan Victoria. Gunung yang tertinggi di Australia, yakni Gunung Kosciusko (2.228 meter), terletak di Snowy Mountains.

Sisa-sisa gunung api tua tersebar di kawasan dataran tinggi timur. Dataran tinggi tersebut juga merupakan sumber bagi banyak sungai. Beberapa dari sungai-sungai ini mengalir ke pantai timur dan lainnya mengalir ke arah pedalaman. Sungai Murray (panjangnya 2.520 km) dan sungai Darling (panjangnya lebih dari 3.750 km) mengalir ke dataran tinggi timur, mengalir ke daerah pedalaman, kemudian menuju ke laut selatan.

Dataran Pantai Barat

Dataran rendah ini merupakan akibat adanya persesaran di sepanjang pantai barat Benua Australia. Dalam proses ini, suatu patahan pantai yang sempit telah tertekan ke arah bawah, sehingga membentuk sebuah dataran pantai.

Dataran pantai Timur

Persesaran permukaan bumi juga telah terjadi di sepanjang pantai timur yang membentuk Dataran Tinggi Timur, sehingga menimbulkan kawasan dataran rendah pantai yang sempit. Jalur pantai yang sempit itu terdiri atas lembah-lembah sungai dan bukit-bukit. Di sini dijumpai beberapa sungai pendek dengan sungai yang alirannya baik, seperti Sungai Burdekin, Fitzroy dan Hunter. Sungai-sungai ini penting bagi pertanian dan bagi penduduk yang menggunakan sungai tersebut. Misalnya, Sydney menggunakan tiga sungai, yakni Sungai Hawkesbury, Parramatta, dan Georges.

Paparan Benua

Di seluruh Australia terdapat kawasan yang lautnya dangkal dan dasar samuderanya membentuk suatu paparan (shelf). Ini disebut paparan benua. Di sepanjang batasan daerah barat, selatan, dan utara, paparan tersebut lebar, tetapi menjadi sempit di sepanjang pantai timur. Paparan utara, yang disebut paparan Sahul, digunakan bersama dengan Indonesia dan Papua Nugini. Di atas paparan benua itu, yakni di lepas pantai tropis di Queensland, terdapat kawasan terumbu karang yang sangat luas. Terumbu karang ini disebut Karang Penghalang Besar (Great Barrier Reef). Karang ini merupakan yang terbesar di dunia dalam jenis ini. Karang tersebut mulai terbentuk kira-kira 12 juta tahun yang lalu, yang tumbuh dan mati secara berkala sesuai dengan naik dan turunnya permukaan laut.

Perubahan bentang alam

Bentang alam Australia terbentuk selama jutaan tahun. Dulunya bentang alam tersebut tidak selalu seperti sekarang. Iklim Australia juga telah berubah. Demikian juga dengan tumbuhan dan satwa yang menempati benua tersebut. Cerita tentang bagaimana Australia memperoleh bentuknya yang sekarang ini merupakan cerita panjang dan menarik, yang dimulai dari zaman prasejarah.

Beberapa peristiwa penting pada zaman prasejarah Australia

Bagian kerak bumi yang tertua

Bumi terbentuk antara 4.600 sampai 3.500 juta tahun yang lalu. Pertama-tama bumi tertutup oleh benda yang meleleh dari gunung berapi. Benda ini lama kelamaan mendingin dan membentuk kerak. Uap air dalam lapisan udara memadat dan membentuk lautan. Hanya sedikit yang tersisa dari bentang darat vulkanis dari zaman dulu di Australia. Beberapa batuan yang diendapkan melalui sungai membuktikan bahwa dulu terdapat daratan di Australia pada lebih dari 4.000 juta tahun yang lalu.

Kehidupan awal

Sejak 3.500 sampai 1.000 juta tahun yang lalu bumi masih panas dan karbon dioksida sangat terpusat dalam lapisan udara. Keadaan ini membantu bertumbuhnya bentuk kehidupan awal. Beberapa dari bentuk-bentuk kehidupan awal ini, yang disebut sinobakteri, menyerap karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen. Tumbuh-tumbuhan masih melakukan hal ini, yakni yang disebut proses fotosintesis. Oksigen yang dikeluarkan pada zaman kuno ini bereaksi dengan besi di lautan untuk membentuk endapan bijih besi. Sekarang banyak sekali dijumpai endapan bijih besi dalam jumlah besar di Pegunungan Hammersley di Australia Barat.

Pada saat ini hanya ada satu mahabenua yang sangat besar di dunia, yang dikenal dengan sebutan Pangaea

Maha-benua Pangaea

Beberapa plato yang ada di Australia Barat merupakan bagian dari benua tersebut. Bagian-bagian ini di Australia tetap stabil selama jutaan tahun dan tidak banyak terpengaruh oleh gerakan-gerakan bumi. Di sini gempa bumi jarang terjadi dan beberapa bentuk batu ada yang berumur kira-kira 1.000 juta tahun. Beberapa dari batu tua ini yang muncul karena adanya erosi, penuh dengan endapan emas dan intan.

Timbulnya kehidupan yang rumit

Antara 1000 dan 400 juta tahun yang lalu, mulai timbul kehidupan yang lebih rumit di bumi. Mula-mula muncul satwa laut yang berbadan lembek yang kemudian diikuti dengan timbulnya satwa laut berkulit keras. Akhirnya, kira-kira 410 juta tahun yang lalu, dimulailah kehidupan awal di darat. Ini merupakan saat mulai terbentuknya gunung lipatan besar di Australia tengah. Sekarang gunung-gunung ini hampir seluruhnya terkikis. Uluru (Batu Ayers) dan perbukitan Kata Tjuta merupakan sisa-sisa dari gunung-gunung tua ini.

Terpisah-pisahnya Pangaea

Kira-kira antara 400 dan 230 tahun yang lalu, mahabenua Pangaea akhirnya terpecah menjadi dua benua besar. Kedua benua baru tersebut disebut Gondwana dan Laurasia.Gondwana mengapung ke arah selatan sedangkan Laurasia mengapung ke arah utara. Australia, India, Antartika, Irian Jaya, dan bagian-bagian Pulau Sulawesi merupakan bagian dari Gondwana. Diagram dalam menunjukkan pecahnya Pangaea menjadi Laurasia dan daratan Gondwana.

Pangaea terpisah

Benua Gondwana

Inilah saat terbentuknya gunung-gunung berapi di sepanjang pantai timur Australia. Gunung-gunung berapi membentuk kumpulan (massa) batu granit yang dapat dilihat di Australia bagian timur sekarang ini. Pada saat itu juga terbentuk pegunungan lipatan di Australia bagian timur yang panjangnya 2.000 kilometer. Di sebelah barat dari jajaran pegunungan ini terdapat laut kebenuaan (inland seas) yang dangkal. Kira-kira 345 juta tahun yang lalu terdapat sebuah gunung es dan lapisan es yang sangat luas yang menutupi bentang darat, yang menyebabkan ausnya gunung-gunung dan mengubah bentuk daratan. Akhirnya, kira-kira 230 juta tahun yang lalu, pada zaman yang disebut periode Perm, terjadi perubahan iklim. Iklimnya menjadi lebih hangat dan lebih lembab. Tumbuhlah hutan-hutan besar di Australia bagian timur. Ketika pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mati, sisanya terkumpul di laut kebenuaan yang dangkal tersebut. Selama lebih dari jutaan tahun, sisa-sisa pohon dan tumbuhan tersebut berubah menjadi batubara. Sekarang ini endapan batubara dijumpai di Cekungan Sydney di New South Wales dan Cekungan Bowen di Queensland. Juga, endapan minyak dan gas mulai terbentuk di beberapa tempat. Saat inilah terdapat banyak danau, paya-paya, dan laut kebenuaan. Danau Eyre dan banyak danau kering lainnya seperti Teluk Carpentaria dan cekungan Murray-Darling terbentuk sebagai bagian dari laut kebenuaan.Cekungan Artois Besar juga terbentuk pada saat ini. Cekungan ini merupakan kawasan air bawah tanah yang sangat luas yang membentang sejauh 2.000 km dari utara ke selatan dan 1.600 km dari timur ke barat. Cekungan tersebut terletak di bawah Dataran Tengah dan mencakup tiga perempat Queensland, seperempat NSW, sepertiga Australia Selatan, dan seperdelapan Daerah Khusus Utara. Sekarang ini air tersebut tersimpan di bawah tanah dan dapat dipompa ke luar untuk menghidupi domba dan ternak. Seringkali, airnya dapat bertambah apabila terdapat hujan di sepanjang Pegunungan Sebelah Timur.

Cekungan Artois

Dinosaurus berkeliaran di bumi

Kehidupan di atas bumi terus berubah. Antara 230 sampai 65 juta tahun yang lalu, lebih banyak lagi tumbuhan dan satwa yang ditemukan di Australia. Mula-mula satwa daratnya hanya serangga, kemudian ada hewan amfibi dan akhirnya ada reptilia raksasa. Satwa darat yang paling terkenal adalah dinosaurusus. Hewan bernama Muttaburrasaur merupakan sebuah contoh dinosaurus Australia. Kemudian muncullah burung-burung berbulu dan kura-kura yang pertama. Pada saat itu Australia masih merupakan bagian dari Gondwana.

Muttaburrasaur adalah jenis dinosaurusus yang hidup di Australia pada zaman Jura dan Kapur

Gondwana terpecah

Kira-kira 150 juta tahun yang lalu benua besar Gondwana mulai terpecah. Pertama-tama, Afrika dan Amerika selatan terpisah dengan India, Antartika dan Australia

Amerika Selatan dan Afrika terpisah

Kira-kira 100 juta tahun yang lalu, India terpisah dengan Antartika.

India terpisah

Australia dan Antartika terpisah

Australia tetap tersambung dengan Antartika sampai kira-kira 55 juta tahun yang lalu, kemudian ia terpisah dan mulai mengapung ke arah utara. Pemisahan itu disebabkan adanya keretakan yang terus melebar di antara kedua benua tersebut. Keretakan tersebut menyebabkan dasar laut meluas

Australia dan Selandia Baru terpisah

Australia dan Antartika terpisah dan Australia bergerak ke arah utara

Australia kemudian menjadi benua tersendiri yang terpisah. Burung-burung dan hewan mamalia mulai berkembang di Australia, yang berlainan dengan burung dan hewan di bagian lain di dunia. Hal ini disebabkan terpisahnya Australia. Ketika Australia bergerak ke utara, benua tersebut melewati lokapanas, yang terletak jauh di bawah permukaan bumi. Hal ini menyebabkan gunung berapi meletus di beberapa tempat yang berbeda di Australia. Letusan gunung berapi yang terakhir terjadi sekitar 6000 tahun yang lalu, yaitu Gunung Gambier di negara bagian Australia Selatan. Terus bergeraknya Benua Australia ke utara membawanya ke daerah garis lintang yang beriklim lebih hangat. Iklim Benua Australia menjadi lebih hangat dan lebih lembab, serta banyak hutan tropis bermunculan di seluruh Australia. Waktu terus berlalu dan Benua Australia memasuki daerah garis lintang yang bergurun-gurun, sehingga iklim Australia menjadi lebih kering. Tumbuh-tumbuhannya berubah, dan sebagian besar hutan tropis menghilang, dan yang tersisa hanyalah hutan-hutan pohon eukaliptus (eucalypt) dan padang rumput yang dapat bertahan hidup di musim-musim kering.

Lempengan Tektonik

Kita sudah melihat bagaimana benua Gondwana yang besar itu terpisah. Kita juga sudah melihat bagaimana Australia memisahkan diri dari Gondwana dan menjadi sebuah pulau yang besar. Untuk dapat mengerti proses pergerakan benua, kita akan mempelajari secara singkat tentang lempengan tektonik. Konsep ilmiah ini akan membantu kita mengerti bagaimana terbentuknya benua-benua di bumi dan ciri-ciri utamanya.

Lempengan-lempengan bumi

Kerak bumi terbagi menjadi lempengan-lempengan. Ada enam lempengan benua yang besar dan ada beberapa yang kecil. Di antara lempengan-lempengan itu terdapat retakan-retakan besar di kerak bumi. Lempengan-lempengan itu bergerak perlahan-lahan ke arah permukaan bumi. Di beberapa tempat, lempengan-lempengan tersebut bergerak saling menjauhi dan di beberapa tempat lain lempengan-lempengan itu bergerak saling mendekati dan bertabrakan. Di daerah yang lempengannya saling menjauhi, timbul bahan lelehan dari dalam bumi melalui retakan-retakan yang ada. Bahan lelehan ini kemudian menjadi dingin dan membentuk batuan yang disebut basal. Berpisahnya lempengan-lempengan bumi ini terjadi jauh di bawah lautan di bumi. Basal yang timbul kemudian membentuk deretan pematang bawah samudera. Deretan ini disebut pematang tengah samudera. Semakin banyak bahan lelehan muncul dan membentuk basal, bahan tersebut mendorong lempengan-lempengan bumi untuk semakin jauh berpisah. Hal ini menyebabkan melebarnya dasar samudera. Terdapat pematang tengah samudera di antara Australia dan Antartika. Pematang ini melebar sebesar 6 sampai dengan 7,5 sentimeter per tahun. Pelebaran dasar samudera ini mendorong lempengan India-Australia ke arah utara sehingga bertabrakan dengan lempengan Eurasia. Tabrakan ini dimulai sekitar 25 juta tahun yang lalu dan terus berlanjut hingga sekarang. Lempengan India-Australia sedang didorong ke bawah lempengan Eurasia. Proses ini disebut penunjaman . Tabrakan kedua lempengan tersebut membentuk Pegunungan Himalaya, yakni busur gunung api di Indonesia, parit Sunda dan Jawa serta tanah tinggi Nugini. Australia bagian utara telah didorong ke arah bawah sehingga membentuk Teluk Carpentaria dan Laut Timor serta Laut Arafura.

Lempengan India-Australia bertabrakan dengan lempengan Eurasia

Ketika pinggiran lempengan India-Australia bertabrakan dengan lempengan Eurasia, lempengan tersebut longsor jauh ke dalam bumi, di bawah Indonesia. Suhu yang sangat tinggi telah melelehkan pinggiran lempengan sehingga menghasilkan magma. Di banyak tempat, magma ini kemudian muncul melalui retakan di permukaan bumi dan membentuk gunung-gunung api. Busur gunung-gunung api Indonesia terbentuk dengan cara seperti ini. Gempa bumi umumnya terjadi di kawasan ini karena lempengan benua mengeluarkan tekanan pada saat lempengan itu menurun melalui parit samudera. Gunung-gunung api yang terbentuk dengan cara ini disebut gunung api andesit karena lava yang dikeluarkannya membentuk batu yang disebut andesit. Batu andesit ini kaya akan silika dan alumina. Gunung-gunung api andesit sifatnya sangat mudah meledak dan tak terduga.

25 juta tahun yang lalu sampai sekarang

Selama 25 juta tahun terakhir ini Australia menjadi stabil. Tidak terdapat pergerakan bumi yang utama di Australia di sepanjang Dataran Tinggi sebelah Timur yang kawasannya telah terangkat ke atas sehingga membentuk kawasan yang curam dan terjal. Pegunungan Biru di sebelah barat kota Sydney merupakan contoh kawasan terangkat ini yang dimulai kira-kira 12 juta tahun yang lalu. Juga terdapat beberapa ledakan gunung api yang terpisah-pisah di sepanjang Dataran Tinggi Timur. Ledakan-ledakan ini disebabkan oleh kantung-kantung bahan lelehan di bawah kerak bumi yang disebut “loka panas”. “Loka panas” terkini yang baru ditemukan ada di bawah pantai sebelah barat laut Tasmania. Selain gunung-gunung api “loka panas” dan pengangkatan daratan di Australia bagian timur, benua tersebut terus menerus terkikis selama 25 juta tahun dan mengakibatkan timbulan rendah. Kawasan-kawasan yang sangat luas telah berubah menjadi dataran dan plato.

Sumber:

 http://www.dfat.gov.au/aii/publications/bab01/index.html

Leave a comment

Filed under Bumi Kita

Benua Antartika Dipastikan Menghangat


Benua Antartika di Kutub Selatan bertambah hangat selama setengah abad terakhir seperti halnya belahan lain dunia. Hasil satu studi baru yang disiarkan di dalam jurnal Nature, edisi teranyar mematahkan pendapat yang sempat menyatakan bahwa kawasan tersebut malah mendingin.
Kajian yang dilakukan para ilmuwan AS itu dilakukan dengan mengombinasikan catatan cuaca dan satelit di wilayah Kutub Selatan yang berisi 90 persen es dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa temperatur beku telah naik sebesar 0,5 derajat Celsius (0,8 Fahrenheit) sejak 1950-an.
Para ilmuwan tersebut menyimpulkan bahwa wilayah timur Kutub Selatan, yang lebih besar dan lebih dingin dibandingkan dengan bagian baratnya, bertambah hangat 0,1 derajat Celsius per dasawarsa. Sementara temperatur di bagian barat naik 0,17 derajat Celsius per dasawarsa, lebih cepat daripada kenaikan rata-rata global.
“Apa yang anda dengar sepanjang waktu ialah Antartika akan menjadi dingin tapi bukan itu yang terjadi,” kata pemimpin studi itu Eric Steig dari University of Washington. Penelitian sebelumnya memang menunjukkan bahwa temperatur di sebagian besar benua di dasar bumi tersebut tetap sama atau sedikit lebih dingin.
Selama bertahun-tahun, Kutub Selatan menjadi satu-satunya tempat yang terlihat aneh seolah kebal dari perubahah iklim. Bertambah dinginnya temperatur di beberapa bagian Antartika menjadi senjata bagi sebagian peneliti untuk memberikan argumen bahwa perubahan cuaca dibesar-besarkan.
Namun, hasil penelitian terbaru mematahkan anggapan tersebut apalagi dilakukan secara menyeluruh di seluruh bagian Antartika. Para ilmuwan yang tetap yakin Antartika dipengaruhi pemanasan global memperkirakan pendinginan tersebut hanya bersifat lokal karena dipengaruhi angin dingin yang bertiup ke kawasan kutub.

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2009/01/23/23174655/benua.antartika.dipastikan.menghangat

Leave a comment

Filed under Bumi Kita

Dataran misterius di benua Antartika


Ini adalah lembah misterius di antartika. Belum ada yang bisa menjelaskan fenomena ini, kenapa ketika semua wilayah antartika ditutupi salju, lembah ini justru kering dari salju. Ini sungguh aneh dan ajaib. Kalau dilihat dari atas, lembah ini seperti sebuah tutup panci di mana tetap kering sementara sekitarnya bersalju. Orang menyebut lembah ini adalah ‘lembah kering tanpa salju’ (Antarctica’s Dry Valleys).

Antartika bukan benua kosong, meski kalau menyebut jumlah penghuni, benua ini boleh dibilang berpenduduk paling sedikit dibanding benua yg ada dibumi. Karenanya fenomena ini tetaplah menjadi misteri bagi orang asing.
Sebagaimana diketahui sekitar 14 juta kilometer persegi dari total luas benua Antartika, terselimuti salju yang ketebalannya bisa mencapai 2000 meter bahkan 4.800 meter. Di musim dingin, es juga membekukan lautan, sehingga sulit membedakan mana daratan mana lautan.

Sumber:

http://oxana.blogdetik.com/2010/06/08/dataran-misterius-di-benua-antartika/

1 Comment

Filed under Bumi Kita

Belajar & Meneliti Bencana Purba


INILAH.COM, Jakarta – Penemuan dan penelitian Candi Jiwa di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, boleh dibilang agak spektakuler. Dalam candi tersebut didapatkan data penting tentang penemuan fosil manusia yang tewas dalam kondisi tidak wajar.

Jika percaya dengan pengulangan bencana, perlu ditelusuri penyebab candi ataupun peradaban tersebut terkubur. Kabupaten Karawang tidak jauh lokasinya dengan Ibu Kota Jakarta. Data Candi Jiwa bisa dijadikan petunjuk rentetan berikutnya atau manuskrip tentang kemungkinan bencana masa lampau.

Apalagi, tim Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Alam menemukan indikasi patahan gempa di Selat Sunda yang berpotensi pelepasan yang cukup besar dan kemungkinan menyebabkan tsunami.

Bencana merupakan fenomena alam yang sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Karena itu, manusia harus terus berupaya menyiasati hal tersebut demi kelangsungan hidup di masa depan.

Penelitian sumber-sumber ancaman bencana serta jejak-jejak peradaban masa lalu yang musnah karena dilanda bencana alam diharapkan bisa memberi solusi guna memperkuat ketahanan nasional menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Tim Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Alam telah menggelar rapat di ruang rapat deputi mensesneg bidang hubungan kelembagaan, Rabu 27 April 2011. Tujuannya untuk mendorong seluruh pihak termasuk TNI dan Polri terlibat karena ke depannya bisa dijadikan program ketahanan nasional.

http://nasional.inilah.com/read/detail/1473632/belajar-meneliti-bencana-purba

Leave a comment

Filed under Bumi Kita