Category Archives: Taman Nasional

Gowes pertama kali di tahun 2003


Sekarang sudah tahun 2017, artinya sudah 14 tahun yang lalu saya mulai senang bersepedah dengan teman teman yang Alhamdulillah sampai sekarang masih suka ketemuan, walaupun ketemunya jarang jarang.

Waktu waktu itu memang sangat menyenangkan, jalan jalan ke gunung, ke kampung kampung……selalu kami lakukan hampir tiap hari minggu. Agar sedikit bernostalgia yuk kita lihat lihat photonya ya..

Photo ini waktu gowes dari Ujung Berung ke daerah Maribaya Lembang, tahun 2003.

 

Nah itu dia photo nya waktu sepedaan di tahun 2003, semoga bermanfaat ya…

Leave a comment

Filed under Gowess, Taman Nasional

Benarkah ada alat pengendali cuaca yang bernama HAARP ?


Ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa salah satu negara adidaya telah berhasil menciptakan senjata pengendali cuaca bernama HAARP (High frequency Active Aural Research Program), yang konon katanya berlokasi di daerah Alaska.

Penciptaan senjata pengendali cuaca ini memang telah diprediksi banyak orang sebelumnya. Seorang ilmuwan kelas dunia bernama Dr. Rosalie Bartell telah mengkonfirmasi bahwa militer Amerika sedang mengerjakan sistim senjata pengatur cuaca sebagai senjata potensial, metodenya termasuk mengendalikan badai dan mengatur arah penguapan air di atmosfer bumi untuk menghasilkan banjir ditempat tertentu.

Mantan penasehat keamanan gedung putih bernama Zbigniew Brzezinski juga meramalkan hal ini dalam bukunya yang berjudul “Between Two Ages” , didalam bukunya ia menulis : ” Tehnologi akan menyediakan tehnik untuk untuk melakukan peperangan rahasia yang hanya memerlukan sedikit pasukan seperti tehnik memodifikasi cuaca yang dapat menimbulkan badai yang berkepanjangan”.

Konon pada tahun 2002 Rusia pernah mengkonfortir Amerika dihadapan PBB dengan menuduhnya telah menciptakan bencana bencana di Rusia dengan experimen experimennya. Pertanyaannya apakah Amerika telah menemukan teknologinya?

Dikalangan penganut teori konspirasi beredar sebuah rumor bahwa Amerika telah berhasil menciptakan senjata dahsyat tersebut dan mereka merahasiakannya dengan kedok ilmiah.

Senjata itu bernama HAARP , satu fasilitas super rahasia yg dianggap sebagai perwujudan senjata pamungkas tersebut.

Image

HAARP adalah project bersama antara angkatan udara AS, angkatan laut AS, Universitas Alaska dan DARPA ((Defense Advances Research Projects Agency). Proyek ini dimulai pada tahun 1993 dan diproyeksikan berlangsung selama 20 tahun.

Fasilitas proyek ini terletak di Alaska, tepatnya di wilayah Gakona. Tujuan resminya adalah untuk “Menyediakan sebuah fasilitas untuk mengadakan eksperimen mengenai fenomena Ionosfer yang akan digunakan untuk menganalisa karaktenya dan mengembangkan teknologi pemuktahirannya untuk tujuan komunikasi dan pengintaian”.

Namun menurut beberapa orang ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dilakukan ditempat itu, yaitu pengembangan senjata pemusnah massal. HAARP disebut mampu menciptakan bencana kelaparan diwilayah yang diinginkannya.

Image

Pihak pihak yang menuntut jawaban mengenai HAARP tersebar di seluruh penjuru dunia, mulai dari penduduk Alaska sendiri hingga para ilmuwan di AS dan Eropa. Mereka khawatir kerusakan yg ditimbulkan HAARP tidak dapat dipulihkan.

Salah satu ekperimen HAARP adalah menembakan sinar elektomagnetik terkendali ke ionosfir bumi. Metode ini disebut dengan nama ” Pemanas Ionosfir”.  Ionosfir adalah lapisan yang mengelilingi atmosfir bumi bagian atas dan jaraknya sekitar 40 – 60 mil diatas permukaan bumi.

David Yarrow seorang peneliti dengan latar belakang bidang elektronik mengatakan bahwa interaksi ini akan menyebabkan ionosfer menjadi robek, padahal ionosferlah yang melindungi bumi dari radiasi matahari.

Charles Yost peneliti lain dari North Carolina berkata, jika ionosfir terganggu maka atmosfir dibawahnya pasti akan terganggu.

Bagi ilmuwan kekuatiran utamanya adalah kerusakan pada ionosfir bumi. tapi bagi penganut teori konspirasi kekuatiran utamanya adalah kehadiran senjata pemusnah massal.

Menurut militer tidak ada tujuan untuk menciptakan senjata pemusnah massal, aplikasi HAARP hanyalah digunakan untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas pertahanan Amerika seperti untuk menciptakan siste komunikasi kapal selam yang lebih efesien, memantau dan menangkal serangan rudal yang datang dengan tiba tiba dan untuk memantau topografi wilayah luas untuk tujuan pertahanan.

Diluar benar atau tidaknya rumor tsb, namun  HAARP telah mencapai status yang mensejajarkannya dengan Area 51.

Baru baru ini  ketika telegraph.co.uk mendaftar 30 teori konspirasi terbesar sepanjang masa , HAARP menduduki peringkat ke 27. Tapi akhir akhir ini HAARP menjadi lebih sering dibahas didunia maya menyusul beberapa bencana yang terjadi seperti gempa dahsyat di Cina pada mei 2008 yang dicurigai ulah dari HAARP.

Sumber :

http://xfile-enigma.blogspot.com/2009/09/haarp-benarkah-amerika-telah-mendapat.html

Leave a comment

Filed under Daerah Misteri, Taman Nasional

Taman Nasional Gunung Rinjani


Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan rendah hingga pegunungan tinggi dan savana di Nusa Tenggara.

Potensi tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Gunung Rinjani antara lain jelutung (Laportea stimulans), dedurenan (Aglaia argentea), bayur (Pterospermum javanicum), beringin (Ficus benjamina), jambu-jambuan (Syzygium sp.), keruing (Dipterocarpus hasseltii), rerau (D. imbricatus), eidelweis (Anaphalis javanica), dan 2 jenis anggrek endemik yaitu Perisstylus rintjaniensis dan P. lombokensis.

Selain terdapat satu jenis mamalia endemik yaitu musang rinjani (Paradoxurus hemaproditus rinjanicus), juga terdapat kijang (Muntiacus muntjak nainggolani), lutung budeng (Trachypithecus auratus kohlbruggei), trenggiling (Manis javanica), burung cikukua tanduk (Philemon buceroides neglectus), dawah hutan (Ducula lacernulata sasakensis), kepudang kuduk hitam (Oriolus chinensis broderipii), dan beberapa jenis reptilia.

Pada lembah di sebelah barat Gunung Rinjani terdapat Danau Segara Anak (2.008 m. dpl) yang airnya berbau belerang, suhunya berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Luas danau tersebut sekitar 1.100 hektar, kedalaman antara 160 – 230 meter. Di tengah-tengah danau ini muncul gunung baru vulkanik yang masih aktif dan terus berkembang.

Gunung Rinjani yang merupakan gunung tertinggi ketiga di Indonesia (3.720 m. dpl), menyimpan berbagai misteri salah satu diantaranya yaitu tentang keberadaan Dewi Enjeni. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Dewi Enjeni adalah Ratu jin penguasa Gunung Rinjani. Mereka meyakini bahwa Dewi Enjeni lahir dari perkawinan manusia Sasak dengan jin, berparas cantik dan masih keturunan Raja Selaparang. Untuk menghormati Dewi Enjeni, masyarakat sering mengadakan upacara religius di Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, dengan melepaskan ikan-ikan kecil yang terbuat dari emas tipis ke Danau Segara Anak.

  Continue reading

Leave a comment

Filed under Taman Nasional

Taman Nasional Batang Gadis


Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) adalah sebuah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara, terletak di 99° 12’ 45″ BT sampai dengan 99° 47’ 10″ dan 0° 27’ 15″ sampai dengan 1° 01’ 57″ LU dan secara administrasi wilayah ini dikelilingi 68 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal. Nama taman nasional ini berasal dari dari nama sungai utama yang mengalir dan membelah Kabupaten Madina, Sungai Batang Gadis.

TNBG meliputi kawasan seluas 108.000 hektar atau 26% dari total luas Madina yang terletak pada ketinggian 300 s/d 2.145 meter di atas permukaan laut dengan titik tertinggi puncak Gunung Sorik Merapi.

Melalui SK No 126/Menhut-II/2004 Menteri Kehutanan, TNBG disahkan sebagai Taman Nasional. TNBG terdiri dari dari kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap. Hutan lindung yang dialih fungsikan seluas 101.500 ha, terdiri dari hutan lindung Register 4 Batang Gadis I, hutan Register 5 Batang Gadis II komp I dan II, Register 27 Batang Natal I, Register 28 Batang Natal II, Register 29 Bantahan Hulu dan Register 30 Batang Parlampuan I yang sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak masa pemerintahan Belanda dalam kurun waktu 1921 – 1924. Sementara kawasan hutan produksi yang dialihkan meliputi areal eks HPH PT. Gruti, seluas 5.500 ha, dan PT. Aek Gadis Timber seluas 1.000 ha.

Tujuan pembentukan taman nasional adalah untuk menyelamatkan satwa dan habitat alam. TNBG juga sebagai simbol pengakuan nilai-nilai kearifan lokal dalam mengelola hutan.

Salah satu kearifan tradisional masyarakat setempat ini dibuktikan dengan lubuk larangan atau naborgo-borgo atau harangan rarangan atau hutan larangan, merupakan beberapa contoh kearifan lokal yang hingga kini masih lestari.

Pembentukan ini juga sangat penting mengingat bahwa laju kerusakan hutan alam di propinsi ini sudah pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Departemen Kehutanan pada tahun 2003, kerusakan hutan di kawasan ini mencapai 3,8 juta ha per tahun. Kerusakan hutan di Sumatra Utara sendiri mencapai 76 ribu ha per tahun dalam kurun waktu 1985 – 1998.

Sampai akhir November 2004 kerusakan hutan yang disebabkan penebangan liar (illegal logging) dan kebakaran hutan di Sumut mencapai 694.295 ha, untuk hutan lindung mencapai 207.575 ha, hutan konservasi 32.500 ha, hutan bakau 54 220 ha dan hutan produksi sekitar 400.000 ha.

Pembentukan taman nasional ini juga tidak semata-mata upaya pemerintah saja, melainkan atas jerih payah masyarakat dan kalangan lembaga swadaya masyarakat seperti, BITRA Indonesia, Conservation International Indonesia (CII), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, PUSAKA Indonesia, Yayasan Leuser Lestari (YLL), Yayasan Samudra dan lain-lain.

Objek wisata di Madina, berpusat pada desa-desa yang berada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). Yakni Desa Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Gunung Sorik Marapi setinggi 2.145 meter, pendakiannya bisa dilakukan melalui desa Sibanggor Julu.

 

Sumber:     http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Batang_Gadis

Leave a comment

Filed under Taman Nasional

Taman Nasional Gunung Leuser


Taman Nasional Gunung Leuser biasa disingkat TNGL adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia seluas 1.094.692 Hektar yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Provinsi Aceh yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Aceh Barat Daya,Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, sedangkan Provinsi Sumatera Utara yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Dairi, Karo dan Langkat.

Taman nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser yang menjulang tinggi dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut di Aceh. Taman nasional ini meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,pariwisata, dan rekreasi.

Taman Nasional Gunung Leuser memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu : a. perlindungan sistem penyangga kehidupan; b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Secara yuridis formal keberadaan Taman Nasional Gunung Leuser untuk pertama kali dituangkan dalam Pengumuman Menteri Pertanian Nomor: 811/Kpts/Um/II/1980 tanggal 6 Maret 1980 tentang peresmian 5 (lima) Taman Nasional di Indonesia, yaitu; TN.Gunung Leuser, TN. Ujung Kulon, TN. Gede Pangrango, TN. Baluran, dan TN. Komodo. Berdasarkan Pengumuman Menteri Pertanian tersebut, ditunjuk luas TN. Gunung Leuser adalah 792.675 ha. Pengumuman Menteri Pertanian tersebut ditindaklanjuti dengan Surat Direktorat Jenderal Kehutanan Nomor: 719/Dj/VII/1/80, tanggal 7 Maret 1980 yang ditujukan kepada Sub Balai KPA Gunung Leuser. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa diberikannya status kewenangan pengelolaan TN. Gunung Leuser kepada Sub Balai KPA Gunung Leuser.

Sebagai dasar legalitas dalam rangkaian proses pengukuhan kawasan hutan telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kehutanan nomor: 276/Kpts-II/1997 tentang Penunjukan TN. Gunung Leuser seluas 1.094.692 hektare yang terletak di Provinsi daerah Istimewa Aceh dan Sumatera Utara.

Sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.03/Menhut-II/2007, Saat ini pengelola TNGL adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA)Departemen Kehutanan yaitu Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang dipimpin oleh Kepala Balai Besar (setingkat eselon II).

Salah satu Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang terkenal di dalam kawasan TNGL adalah Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera – Bukit Lawang di Kawasan Wisata Alam Bukit Lawang – Bohorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Sisi lain, taman nasional ini juga mendapat perhatian karena maraknya kasus penebangan pohon illegal di beberapa lokasi yang menyalahi reservasi lingkungan.

Sebagian besar kawasan TNGL memiliki topografi yang curam dan struktur dan tekstur tanah yang rentan terhadap longsor. Hal ini terbukti pada saat banjir bandang yang menghancurkan kawasan wisata alam Bukit Lawang beberapa tahun lalu. Untuk lebih menjaga TNGL dari kerusakan yang lebih parah maka dibentuklah suatu kawasan yang disebut Kawasan Ekosistem Leuser. Kawasan yang memiliki luas 2,6 juta hektar ini meliputi area yang lebih datar di sekeliling TNGL dan berfungsi sebagai penyangga (buffer).

 

Sumber:      http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Gunung_Leuser

 

Leave a comment

Filed under Taman Nasional

Taman Nasional Meru Betiri


Taman Nasional Meru Betiri terletak di regional Jawa Timur bagian selatan pada koordinat geografis 8°21’ – 8°34’ LS, 113°37’ – 113°58’ BT, dengan ketinggian 900 – 1.223 mdpl dan curah hujan rata-rata 2.300 mm/tahun, ditunjuk sebagai taman nasional sejak tahun 1982 oleh Menteri Pertanian dengan luas wilayahnya sekitar 58.000 ha dengan nama diambil dari nama gunung tertinggi di kawasan ini yaitu gunung Betiri (1.223m). Secara administratif, Taman Nasional Meru Betiri berada dalam wilayah Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Penunjukan taman nasional ini disahkan dengan surat keputusan Menteri Kehutanan, SK No. 277/Kpts- VI/97.

TN Meru Betiri dapat diakses baik melalui wilayah Kabupaten Banyuwangi di timur, atau pun melalui Kabupaten Jember di sebelah barat. Yakni melewati tempat-tempat sbb.:

  • BanyuwangiJajagPesanggaran – Sungai Lembu – SaronganKandangan – Pantai Rajegwesi (pintu gerbang taman nasional) – Sumbersuko – Sukamade. Sukamade adalah wilayah pantai yang terkenal sebagai tempat peneluran penyu.
  • JemberAmbuluTempurejoCurahnongkoAndongrejo (lokasi gerbang taman nasional) – Bande Alit. Bandealit juga merupakan wilayah pantai, di mana berlokasi sebuah perkebunan kecil di tengah hutan.

Taman Nasional Meru Betiri memiliki obyek wisata petualangan hutan dan pantai. Pantai yang ada banyak yang masih “perawan” karena memang tidak diperkenankan untuk dibangun sarana wisata yang permanen.

Taman nasional Meru Betiri merupakan habitat tumbuhan langka yaitu padma Rafflesia zollingeriana yang endemik di Jawa.

Tumbuhan pantai yang dapat dijumpai antara lain

  • bakau (Rhizophora sp.)
  • api-api (Avicennia sp.)
  • waru (Hibiscus tiliaceus)
  • nyamplung (Calophyllum inophyllum)
  • rengas (Gluta renghas)
  • bungur (Lagerstroemia speciosa)
  • pulai (Alstonia scholaris)
  • benda (Artocarpus elasticus)
  • Bruguiera sp.
  • Sonneratia sp.
  • Balanophora fungosa)

dan beberapa jenis tumbuhan obat-obatan.

Survai tahun 2008 di daerah Bandealit (Kabupaten Jember) dan Sarongan (Kabupaten Banyuwangi) mengungkap ada paling tidak 27 spesies anggrek di taman nasional ini.

Taman Nasional Meru Betiri memiliki satwa dilindungi yang terdiri dari 29 jenis mamalia, dan 180 jenis burung. Satwa tersebut di antaranya adalah banteng (Bos javanicus javanicus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus javanicus), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), rusa (Cervus timorensis russa), (Cervus unicolor), bajing terbang ekor merah (Iomys horsfieldii), merak (Pavo muticus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu lekang/ridel (Lepidochelys olivacea), Accipiter trivirgatus, Falco moluccensis, Hieraaetus kienerii, Otus lempiji, Glaucidium castanopterum, elang Spizaetus alboniger.

 

Sumber:   http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Meru_Betiri

 

 

Leave a comment

Filed under Taman Nasional

Taman Nasional Gunung Merbabu


Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan taman nasional yang mencakup kawasan hutan di Gunung Merbabu. Secara administratif, taman nasional ini termasuk ke dalam wilayah 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah.

Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 135/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan lindung dan taman wisata alam pada kelompok hutan Merbabu seluas 5.725 hektar. Kawasan ini dinilai penting sebagai sumber mata air bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Selain itu, kawasan hutan Merbabu juga merupakan habitat flora dan fauna yang dilindungi dan dilestarikan. Sistem pengelolaan taman nasional yang diterapkan diharapkan mampu untuk melestarikan dan mengembangkan kawasan konservasi ini sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebelumnya, kawasan hutan ini merupakan wilayah hutan lindung G. Merbabu yang dikelola oleh Perum Perhutani dan Taman Wisata Alam (TWA) Tuk Songo yang merupakan salah satu kawasan konservasi di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Terhitung sejak tanggal 30 Desember 2005, pengelolaan taman nasional diserahkan kepada BKSDA Jawa Tengah, sementara menunggu ditetapkannya pengelola Taman Nasional yang lebih pasti (definitif). Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Taman Nasional Gunung Merbabu baru dibentuk pada bulan Juni 2006, berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P29/Menhut-II/2006 tentang organisasi dan tata kerja Balai Taman Nasional yang baru

Kawasan taman nasional ini terutama terdiri dari zona-zona hutan pegunungan, seperti yang dikemukakan van Steenis:

  1. Zona hutan pegunungan bawah (1.000—1.500 m dpl), saat ini telah berubah (tidak asli lagi) dan ditumbuhi oleh jenis-jenis tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii ssp. noronhae) dan bintuni.
  2. Zona hutan pegunungan atas (1.500—2.400 m dpl), ditumbuhi oleh jenis-jenis akasia (Acacia decurrens), puspa, sengon gunung (Albizia lophanta), sowo (Engelhardtia serrata), cemara gunung (Casuarina junghuhniana), pasang (Quercus sp), dan tanganan.
  3. Zona hutan (vegetasi) sub-alpin (2.400—3.142 m dpl), ditumbuhi oleh rerumputan dan edelweis jawa.

Beberapa jenis hewan yang tercatat dari kawasan ini di antaranya adalah elang jawa, elang hitam, alap-alap sapi, elang-ular bido, ayam hutan, tekukur, gelatik batu, kijang, landak, musang luwak, monyet ekor-panjang, macan tutul, dan lain-lain.

Sumber :    http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Gunung_Merbabu

Leave a comment

Filed under Taman Nasional