Saung Angklung Udjo

Terinspirasi filosofi maestro angklung Daeng Soetigna, yaitu mudah, murah, mendidik, menarik, dan massal, Udjo Ngalagena (alm) terdorong mendirikan Saung Angklung Udjo. Ditambah nilai kreatif dan meriah, dari rumah kecil berukuran 8 meter x 10 meter itu kini SAU melanglang buana ke berbagai negara.

“Bapak bersama Ibu, Uum Sumiati, mulai mendirikan SAU tahun 1966. Dulu, pengunjung per bulan hanya 4-8 orang. Bapak lebih sering diundang tampil di luar,” kata Taufik Udjo, putra kandung Udjo sekaligus Direktur SAU.

Akan tetapi, di tengah kesederhanaan itu, Udjo tetap total melayani pengunjung. Taufik memberi contoh, ayahnya selalu menjemput tamu yang datang dari jalan besar. Bahkan, di tengah hujan, Udjo menyediakan pelepah daun pisang untuk menghindari guyuran hujan.

Udjo juga terkenal kreatif. Selain mengembangkan angklung pentatonis dengan grup arumbanya, banyak pertunjukan menarik ditampilkan. Demi menarik minat pengunjung, Udjo memelihara kelelewar dan makan bersamanya atau memelihara burung kepodang alias bincarung (Oriolus chinensis) dan melakukan atraksi memberi makan di kepala.

“Angklungnya pun diminati banyak orang dalam dan luar negeri. Bila awalnya hanya membuat berdasarkan pesanan, sekarang dalam sebulan SAU memproduksi 10.000 unit,” ujar Taufik.

Sederhana

Pengamat seni dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, Sis Triadji, mengatakan, di tengah kesederhanaannya Udjo menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kecintaannya pada angklung memberikan energi kepada banyak orang untuk memainkan angklung. Bahkan ia masih ingat ketika Udjo dengan tiba-tiba mengajak polisi, tentara, serta anak kecil tanpa latar belakang musik untuk memainkan angklung. Di bawah bimbingan Udjo, mereka dengan cepat menguasai angklung.

Udjo tidak hanya menginspirasi Indonesia. Berbagai negera sudah mengenalnya sebagai maestro angklung meski ia sudah tiada pada 2001. Lewat SAU yang kini dikelola 10 putra dan putrinya, angklung semakin mendunia. Setiap tahun SAU selalu menjadi duta Indonesia di berbagai negara. Taufik mengatakan, tahun ini SAU akan tur ke Inggris, Perancis, dan Bulgaria.

Salah satu yang paling fenomenal adalah semangat Udjo memengaruhi para personel SAU mengusulkan angklung sebagai kekayaan intelektual tak benda (intangible cultural heritage) Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Usulan ini akan disidangkan di Kenya, Mei 2010, dan dikukuhkan enam bulan kemudian. Bila berhasil, angklung akan menjadi budaya Indonesia keempat yang diakui UNESCO sebagai warisan intelektual tak benda setelah keris, batik, dan wayang.

“Saya dapat bocoran dari Kepala Riset dan Budaya Departemen Pendidikan Nasional, katanya peluangnya sangat besar,” ujar Direktur Operasional SAU Satria Yanuar Akbar. (Cornelius Helmy)

Sumber :  http://www.kasundaan.org/id/index.php?option=com_content&view=article&id=152:inspirasi-udjo-bagi-dunia&catid=47:angklung&Itemid=69

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s